“Peran Koperasi Digital sebagai Tonggak Pergerakan Kegiatan Ekonomi Masyarakat NTB”

Seperti
yang kita ketahui saat ini kita sedang berada di era dimana perkembangan
teknologi digital berkembang dengan pesat. Masyarakat disuguhkan dengan
berbagai kemudahan dalam melakukan aktivitas. Mulai dari kegiatan ekonomi,
sosial, interaksi, budaya, kesehatan, dsb. Ini merupakan suatu tantangan bagi
generasi milenial Indonesia, hendaknya pemuda-pemudi Indonesia dapat
memanfaatkan pesatnya kemampuan teknologi ini menjadi suatu hal yang bermanfaat.
Khususnya dibidang ekonomi, ini merupakan suatu kesempatan besar bagi generasi
milenial untuk menciptakan bisnis atau kegiatan wirausaha yang berbasis
teknologi digital.
Tentunya kita sejak kecil sudah
mengenal yang namanya koperasi. Namun, dengan seiring berjalannya waktu
koperasi menjadi kalah tenar dan kurang diketahui oleh generasi-generasi milenal. Padahal, koperasi ini memiliki visi dan misi yang bagus dalam
konsep ekonomi. Apalagi koperasi juga merupakan kegiatan usaha asli Indonesia
yang menerapkan sistem kekeluargaan dan gotong royong dalam mensejahterakan
anggotanya.
Nah, tentunya diperlukan sentuhan
anak muda Indonesia untuk merubah kesan kolot dari koperasi, menjadi suatu hal
yang modern yang juga dapat menjawab tantangan ekonomi di era revolusi industri
4.0 saat ini. Kita dapat merubah koperasi konvensional menjadi koperasi
digital, dari koperasi “zaman kuno” menjadi “koperasi zaman now” . Bagaimanakah
caranya?
Pertama-tama tentu kita mengetahui
penggunaan aplikasi dalam kegiatan bertransaksi ekonomi saat ini adalah suatu
hal yang lumrah. Oleh karena itu, langkah pertama adalah kita dapat membentuk
sebuah aplikasi/software “Koperasi Digital”. Dimana didalam software ini kita
dapat melengkapinya dengan berbagai fitur untuk memudahkan kegiatan dalam
bertransaksi di Koperasi Digital. Seperti fitur transaksi jual beli online,
pembayaran non-tunai, fitur chat untuk berkomunikasi, promosi di media sosial,
hingga fitur GPS seperti yang diterapkan oleh perusahaan GOJEK untuk dapat
menghubungkan antara konsumen dan klien. Fitur-fitur ini lah yang nantinya akan
memudahkan pelaku koperasi dalam menjalankan usahanya, dan juga memberikan
kenyamanan kepada klien dalam melakukan transaksi.
Saya dapat memberikan contoh kasus
seperti yang terjadi di daerah saya, yaitu di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
NTB, khususnya di daerah Pulau Sumbawa terkenal dengan khasiat madu Sumbawa nya
yang sehat dan lezat. Harganya juga cukup mahal, karena madu ini memilki
kualitas yang sangat baik.
Gambar
Madu Sumbawa (sumber : https://www.indotrading.com/).
Namun,
dibalik potensi wirausaha Madu Sumbawa ini, terdapat juga beberapa
permasalahan. Seperti, walaupun madu Sumbawa ini dijual dengan harga yang cukup
mahal. Namun, tetap saja para petani madu di Pulau Sumbawa belum cukup untuk
menaikkan taraf hidup mereka. Hal ini disebabkan jangkauan konsumennya yang
masih sedikit. Para konsumen mereka hanya sekitaran Pulau Sumbawa dan Pulau
Lombok saja, paling jauh hanya sampai di Pulau Jawa. Padahal jika target
pasarnya bisa tembus lebih luas lagi, ataupun hingga ke Asia ataupun Australia,
tentunya akan lebih banyak keuntungan yang dapat diraup. Akan tetapi, keterbatasan
media dan “gagap teknologi” para petani madu membuat mereka tidak dapat
mengembangkan usahanya tersebut.
Nah, disinilah kontribusi koperasi
digital dan generasi milenial sebagai solusi dalam menjawab permasalahan
tersebut. Peran pemuda disini dapat membuat aplikasi Koperasi Digital tersebut dan
mempromosikan produk Madu Sumbawa di media sosial baik di luar maupun dalam
negeri guna meluaskan target pemasaran dari Madu Sumbawa. Para petani madu ini
kemudian berperan sebagai anggota koperasi. Mungkin awalnya hanya beberapa
petani yang ikut, namun dengan melihat hasil yang signifikan dengan penjualan
Madu Sumbawa yang peminatnya melonjak karena target pasar sudah lebih luas. Maka
dengan sendirinya anggota Koperasi Digital akan terus bertambah dan dengan
perlahan dapat menaikkan taraf hidup para petani madu serta menggerakkan
kegiatan ekonomi dari Provinsi NTB. Kegiatan ekonomi yang berkembang ini juga
memungkinkan Koperasi Digital untuk melakukan kerjasama dengan berbagai mitra,
baik untuk meningkatkan kualitas dari aplikasi Koperasi Digital itu sendiri
maupun kerjasama offline dengan
berbagai perusahaan jasa pengiriman ataupun dengan media promosi (periklanan). Selain itu, penggunaan aplikasi ini juga tentunya
akan menjadi sarana kepada para petani madu untuk sedikit demi sedikit memahami
penggunaan teknologi digital.
Itulah salah satu contoh kasus
penerapan konsep Koperasi Digital untuk menjawab tantangan ekonomi pada era Revolusi
Industri 4.0. Masih banyak kasus yang dapat diterapkan dengan konsep Koperasi
Digital ini. Mirip dengan kasus Madu Sumbawa tadi, di NTB juga pembuatan
kerajinan Cukli menjadi salah satu kegiatan kewirausahaan yang memiliki potensi
ekonomi yang cukup tinggi, namun terhalang oleh kurang luasnya target pemasaran dan promosi melalui teknologi digital.
Kerajinan
Cukli, furniture khas Lombok (Sumber : http://id.lombokindonesia.org/cukli-desa-lendang-re-lombok/).
Nah, pemuda-pemudi NTB dapat mengajak para pengrajin Cukli ini untuk
melebarkan target pemasarannya melalui Koperasi Digital. Bukan hanya di NTB saja, konsumen Cukli bisa
datang dari berbagai penjuru. Mengingat Cukli ini merupakan kerajinan khas Lombok yang tempat produksinya juga hanya ada di
Lombok, tentunya hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelaku penikmat karya seni, baik dari Indonesua maupun orang-orang mancanegara. Disinilah, lagi-lagi peran dari Koperasi Digital untuk menjembatani kegiatan ekonomi itu
berlangsung.
Bukan hanya di NTB, tetapi penerapan
konsep Koperasi Digital ini bisa diterapkan dimana saja oleh generasi milenial
di Indonesia. Sekarang tergantung bagaimana teknik mereka dan perspektif mereka
dalam mengubah suatu permasalahan menjadi peluang bisnis. Dan tentunya Koperasi
Digital ini jika terus dikembangkan dapat menjadi bisnis start up untuk
memunculkan pengusaha-pengusahan muda sukses di Indonesia. Yang tidak hanya
sukses sendiri namun, juga sukses bersama-sama masyarakat. Sesuai dengan asas koperasi yang kekeluargaan dan berjiwa gotong royong dalam mensejahterakan anggotanya.


Komentar
Posting Komentar